Compiled by Theeas

Rasanya saya nggak perlu lagi membahas “keutamaan Ramadhan” seperti setan dibelenggu, ampunan berlimpah, pintu neraka ditutup, doa diijabah, dll. Anda pasti sudah khatam. Saya sendiri dulu di SMA aja ketiduran nyenyak pas Pesantren Kilat gara-gara superboring pementornya membicarakan “keutamaan Ramadhan” yang sama selama 6 hari berturut-turut! Tapi saya di sini specialized untuk membahas keutamaan puasa Ramadhan dari segi kesehatan, yang as always, secara scientific🙂.

.

Puasa Ramadhan dan Amat Banyak Manfaat Kesehatan

Dr. Arnold Eheret, penemu muscusless diet healing system (bingung mentranslate ceritanya :-D), menjelaskan puasa sebagai “nature’s only fundamental law of all healing and curing” ( “satu-satunya dasar dari segala pengobatan dan penyembuhan alami”). Puasa sebagai terapi pengobatan juga telah dijalankan oleh filsuf ilmu alam,  Asclepiades, lebih dari dua ribu tahun lalu. Hippocrates, Galen, Paracelsus, dan banyak para ahli pengobatan menganjurkannya—hingga zaman modern ini.

Dr. Ralph Cinque, dokter ahli pengobatan alternatif yang telah berkecimpung penuh dalam terapi puasa selama 30 tahun lebih, meringkas manfaat puasa sebagai berikut dari pengalamannya merawat pasien :

1. Puasa mempercepat proses penurunan berat badan. Asal kita tetap berpuasa tanpa bolong, kita takkan terlalu merasa lapar lagi. Kebanyakan orang tidak menyadari betapa kecil nafsu makan mereka saat berpuasa.

2. Puasa mendorong detoksifikasi. Ketika tubuh memecah cadangan lemaknya, ia juga memobilisasi dan membuang toksin yang tersimpan.

3. Puasa mempercepat penyembuhan inflamasi, seperti rheumatoid arthritis

4. Puasa menghentikan reaksi alergi, seperti asma dan hay fever.

5. Puasa mempercepat pengeringan akumulasi abnormal cairan tubuh, seperti edema kaki dan pembengkakan perut

6. Puasa menormalkan tekanan darah tanpa obat. Biasanya, tekanan darah akan tetap normal setelah puasa asalkan pasien menerapkan gaya hidup sehat

7. Puasa memudahkan orang untuk sembuh dari ketagihan. Banyak pasien yang telah sembuh dari ketagihan rokok, alkohol, bahkan narkoba, karena puasa.

8. Puasa mencerahkan kulit dan menjernihkan mata.

9. Puasa menetralisasi indera perasa, sehingga makanan alami yang menyehatkan akan terasa lebih enak di lidah. Tentunya Anda bisa merasakan, makanan dan minuman tak pernah terasa begitu lezat ketika berbuka.

Pada tahun 1994 didirikan Kongres Internasional “Health and Ramadhan” di Casablanca, yang menyertakan 50 makalah penelitian dari seluruh dunia oleh Muslim dan Nonmuslim.Kongres ini “menelanjangi” habis-habisan manfaat puasa Ramadhan dari segi medis. Mereka sepakat dengan banyak manfaat puasa seperti menurunkan tingkat gula darah, menurunkan kolesterol, dan menurunkan tekanan darah sistolik. Bahkan puasa bisa jadi ideal untuk perawatan pasien hipertensi, obesitas, dan diabetes non-insulin dependent—tergantung kondisi kesehatan dan anjuran dokter. Namun ada beberapa kondisi di mana pasien penderita penyakit kronis dilarang puasa Ramadhan karena membahayakan kesehatannya, seperti pasien penderita arteri koroner dan batu ginjal.

Saya ingin cerita sedikit, kisah nyata, tapi jangan ditiru ya kecuali disarankan dokter…:-). Dulu seorang kakek saya ada yang menderita maag menahun. Bertahun-tahun dia sakit maag sehingga setiap puasa Ramadhan selalu absen. Hingga suatu saat, dia merasa makin tua dan hidupnya mungkin tidak panjang lagi. Jadi, dia berusaha untuk puasa Ramadhan di suatu tahun. Rencananya, dia hanya akan membatalkan puasa kalau maag-nya kumat. Ternyata hari pertama, kedua, ketiga ia puasa, maag-nya nggak kumat seharian. Akhirnya ia terus puasa sampai Ramadhan habis, tanpa bolong sedikitpun. Dan ajaibnya, saat Ramadhan habis, kakek saya itu sembuh total dari maag kronisnya. Beliau sembuh dari maagnya hanya dalam 30 hari, padahal maag itu sudah menjangkitinya bertahun-tahun. Dokter saja sampai terkaget-kaget. Dia tetap sembuh dari maagnya hingga 5 tahun kemudian Allah memanggilnya pulang.

.

DETOKSIFIKASI DAN PERBAIKAN DNA

Penyebab umum kebanyakan penyakit adalah akumulasi zat-zat sampah dan toksin dalam tubuh akibat kebanyakan makan. Ketika kita terlalu banyak makan dan makan dan makan, akhirnya kegiatan tubuh lebih fokus untuk membuang dan mencerna makanan itu daripada memperbaiki dirinya sendiri. Namun puasa dapat mengistirahatkan, dan memberi jeda pada tubuh—seperti ginjal, kulit, paru-paru, dan pencernaan—agar membuang toksin-toksin, tidak membiarkannya terakumulasi dalam tubuh.

Proses detoksifikasi ini dapat lebih cepat, efektif, dan efisien apabila kita berbuka bukan dengan air melainan jus buah-buahan. Menurut ahli nutrisi Dr. Ranger Berg, “selama berpuasa tubuh kita membakar dan membuang sejumlah besar zat-zat toksin daripada ketika tidak berpuasa. Kita bisa membantu proses pembersihan ini dengan meminum jus alkalin daripada selama berpuasa. Eliminasi asam urat dan asam-asam anorganik lain dapat lebih dipercepat dengan jus ini. Mengakhiri puasa (berbuka) dengan yang manis seperti jus buah, juga dapat menguatkan jantung.”(Pas banget dengan Sunnah Rasulullah bahwa berbuka sebaiknya dengan yang manis-manis)

Puasa juga dapat mencegah penuaan. Dalam regenerasi sel, sel-sel yang sudah tua dan rusak digantikan dengan sel-sel baru yang lebih segar dan baik. Namun ada suatu periode di mana sel-sel baru pengganti ini justru lebih jelek dari sel yang lama. Pada saat inilah proses penuaan tubuh dimulai. Namun dalam kondisi tubuh berpuasa, di mana karbohidrat tidak cukup tersedia, dan glikogen (cadangan karbohidrat) dalam tubuh habis terpakai, tubuh akan mulai mengonsumsi cadangan lemak dan protein yang ia miliki agar kita dapat tetap beraktivitas, dan agar energi untuk metabolisme tubuh tetap tersedia. (Walau kita berdiam tidak melakukan apa-apa, tubuh sesungguhnya tetap memakan energi agar dapat menjalankan metabolisme di dalamnya, seperti pencernaan, sirkulasi darah, respon saraf, dll).

Dari mana sumber lemak dan protein yang dibutuhkan tubuh itu? Tentu dari tubuh kita sendiri. Dalam artian, tubuh kita “memakan” dirinya sendiri seperlunya, selama kita  berpuasa, agar kita tetap bertahan hidup. Apabila cadangan glikogen habis, mula-mula tubuh akan mengonsumsi cadangan proteinnya—keadaan ini disebut sebagai ketosis. Kondisi ketosis ini diyakini sebagai penyebab nafas kita berbau tidak sedap selama berpuasa. Cadangan protein dan lemak untuk energi akan didapatkan dari mencerna jaringan-jaringan tubuh sendiri—namun dalam jumlah secukupnya saja. Mula-mula, tubuh akan mendekomposisi dan “membakar” sel-sel dan jaringan yang rusak, sakit, tua, atau mati. Selama proses ini, jaringan-jaringan dan organ vital seperti sistem saraf, kelenjar, dan otak tidak akan terdekomposisi selama berpuasa. Di sinilah terletak rahasia mengapa puasa dapat menjadi langkah menuju awet muda. Selama berpuasa, pembentukan sel-sel baru yang sehat dan segar dipercepat oleh asam-asam amino yang dilepaskan dari sel-sel rusak (Keterangan : setiap sel tubuh manusia mengandung protein, baik rusak atau sehat. Melepaskan protein dari sel-sel rusak berarti “menghemat biaya” dari beban metabolisme). Kapasitas organ mengeliminasi toksin, seperti paru-paru, ginjal, liver, dan kulit sangat meningkat karena terbebas sementara dari beban “mencerna banyak makanan”.

Efek anti-aging dari puasa ini ditegaskan dalam penelitian Kalluri suba Rao (2004) yang dimuat dalam Journal of Molecular and Cellular  Biochemistry (2004). Menurutnya, selama makan sedikit termasuk berpuasa, aktivitas enzim yang terkait dengan perbaikan DNA dapat lebih aktif sehingga menyokong anti-aging tubuh. Dalam hasil penelitian lain, makan dalam porsi lebih sedikit (seperti kalau sedang puasa Ramadhan, secara tak langsung porsi makanan turun) dapat menurunkan produksi hormon triiodotironin dan memperlambat metabolisme. Kadar hormon triiodotironin yang rendah ini dapat memperlambat penuaan jaringan tubuh, sedangkan metabolisme lambat dapat menurunkan radikal bebas dalam tubuh—yang dapat menyebabkan penyakit degeneratif, termasuk kanker.

Bahkan ada potensi kuat puasa dapat memperpanjang umur. Profesor Carlson dan Hoelzel (peneliti dari Jurusan Fisiologi, Universitas Chicago) menemukan bahwa pada percobaan hewan, rentang usia dapat diperpanjang hingga 20 – 30% dengan puasa intermittent (= puasa terputus-putus, jadi kayak orang Islam, jam sekian sampai sekian puasa, terus berbuka, sahur, dst). Pada tahun 1920, pernah pula Profesor Sergius Morgulis dari Universitas Nebraska menemukan bahwa radikal bebas tubuh dapat dirusak dengan cepat selama puasa. Kalaupun terbentuk radikal dalam sel, radikal ini bersifat radikal stabil yang tidak membahayakan tubuh. Sel-sel organisme yang berpuasa juga berasimilasi dan tumbuh dengan cepat, menghapus keraguan saat itu apakah puasa dapat memiliki efek anti-aging atau tidak.

Profesor Carlson dan Dr. Margaret Kunde meneliti bertahun-tahun mekanisme puasa terutama bagaimana rasa lapar selama puasa justru memperbaiki tubuh. Dalam penelitianya, berpuasa selama 2 minggu secara temporer mengubah kondisi fisiologis jaringan pria berusia 40 tahun menjadi kondisi jaringannya seperti pria berumur 17 tahun. Protoplasma-protoplasma sel baru juga terbentuk. Di sinilah tubuh memulai rejuvenasi.

Selamat menunaikan ibadah puasa, dan selamat awet muda!!

Temukan !! Penemuan menarik bagaimana Diet Ala Rasulullah dapat Memperpanjang Umur dan Kebenaran Sunnah Rasul : Makan Sambil Berdiri Bahayakan Saluran Esofagus

SUMBER TULISAN INI

A Complete Handbook of Natural Cure (e-book).

Dr.Cinque’s Facts About Fasting.

Fasting and Rejuvenation. Alec Burton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s